Menyajikan Laporan Harga Pokok Produk M.692000.016.02
MENGKOMPILASI BIAYA PRODUK
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam mengkompilasi biaya produk
Biaya produksi adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Unsur-unsur biaya produksi dapat dimulai dengan menghubungkan biaya ke tahap yang berbeda dalam operasi suatu bisnis, total biaya produksi atas dua elemen : Biaya manufaktur dan biaya komersial. Biaya manufaktur dapat disebut juga biaya produksi atau biaya pabrik biasanya didefinisikan sebagai jumlah dari tiga elemen biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead pabrik. Bahan baku dan tenaga kerja keduanya adalah biaya konversi. Berikut adalah biaya-biaya yang digunakan dalam proses produksi:
1. Biaya Bahan Baku (BBB)
Biaya ini timbul karena pemakaian bahan. Biaya bahan baku merupakan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi untuk membuat barang, dan merupakan bagian dari harga pokok barang jadi yang akan dibuat. Membukukan penggunaan biaya bahan baku yang digunakan dalam proses produksi artinya harus menghitung mutasi persediaan bahan baku yang terjadi selama proses produksi. Unsur-unsur biaya bahan baku yang digunakan dalam proses produksi antara lain: persediaan awal, pembelian bahan baku, retur pembelian dan pengurangan harga, biaya angkut masuk, serta persediaan
akhir.
Perhitungan yang dilakukan untuk membukukan bahan baku yang digunakan selama proses produksi adalah sebagai berikut:
Persediaan awal bahan baku Rp. xxxxx
Pembelian bahan baku Rp.xxxxx
Biaya angkut masuk Rp.xxxxx
_______ +
Rp.xxxxx
Retur pembelian dan pengurangan harga Rp.xxxxx –
Pembelian bersih Rp.xxxxx
_______ +
Persediaan bahan baku untuk produksi Rp.xxxxx
_______ –
Persediaan akhir bahan baku Rp.xxxxx
Bahan baku yang digunakan dalam produksi Rp.xxxxx
Jurnal untuk mencatat penggunaan bahan baku yang dipakai dalam proses produksi adalah sebagai berikut:
Barang dalam proses (BDP) – Biaya Bahan Baku Rp.xxxxx
Persediaan Bahan Baku Rp.xxxxx
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)
Biaya ini timbul karena pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengelolah bahan menjadi barang jadi. Biaya tenaga kerja langsung merupakan gaji dan upah yang diberikan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam pengolahan barang.
3. Biaya Overhead Pabrik (BOP)
Biaya ini timbul terutama karena pemakaian fasilitas untuk mengolah barang berupa mesin, alat-alat, tempat kerja dan kemudahan lain. Dalam kenyataanya dan sesuai dengan label biaya tersebut, kemudian biaya overhead pabrik adalah semua biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Jenis-jenis Biaya Overhead Pabrik antaralain:
Biaya bahan penolong
Adalah biaya bahan yang digunakan untuk membantu penyelesaian suatu produk yang jumlahnya relative kecil. Misalnya lem dalam perusahaan percetakan, pernis dan paku dalam perusahaan mebel.
Biaya tenaga kerja tak langsung
Adalah upah yang dibayarkan kepada karyawan pabrik secara ini antara lain upah pisik tidak berhubungan dengan proses pembuatan produk. Termasuk dalam kelompok ini antara lain upah mandor, gaji manager produksi, gaji pegawai administrasi pabrik.
Biaya penyusutan aktiva tetap pabrik
Adalah biaya penyusutan atas aktiva tetap yang dipergunakan di pabrik untuk penyelesaian produk baik secara lansung maupun tidak langsung, misalnya biaya penyusutan gedung pabrik, mesin-mesin, kendaraan pabrik
Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan dan perawatan mesin, gedung pabrik dan peralatan pabrik lainnya.
Biaya asuransi
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menmbagi resiko yang terjadi dalam proses produksi, biaya asuransi gedung pabrik, biaya asuransi karyawan pabrik.
Biaya-biaya yang timbul karena penggunaan jasa pihak lain
Adalah biaya-biaya yang timbul karena penggunaan jasa pihak lain guna penyelesaian dan kelancaran proses produksi, misalnya biaya listrik dan air untuk keperluan pabrik.
Biaya-biaya yang terjadi di departemen pembantu
Dalam perusahaan yang memiliki departemen pembantu, misalnya departemen bengkel atau pembangkit tenaga listrik, maka semua biaya yang terjadi di departemen pembantu tersebut diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik.
Berdasarkan fungsi pokoknya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut biaya primer (primer cost) sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik disebut biaya konversi (conversition cost), untuk lebih jelasnya perhatikan diagram berikutini :

Biaya Utama atau Prime Cost adalah penjumlahan antara biaya bahan dengan biaya tenaga kerja langsung. Menjadi utama karena kedua biaya tersebut menjadi ujung tombak dalam biaya produksi. Sedangkan Biaya Konversi atau Conversion Cost adalah penjumlahan antara biaya tenaga kerja langsung dengan biaya overhead pabrik. Dinamakan sebagai biaya konversi karena merubah bentuk dari bahan langsung dikonversi menjadi barang jadi.
B. Ketrampilan yang dilakukan dalam mengkompilasi biaya produk adalah sebagai berikut:
Mengambil data biaya produk dari data base sistem yang ada
Mengklasifikasikan data biaya produk secara sistematis dan mencek ketepatan dan reliabilitas sesuai dengan kebijakan dan prosedur perusahaan
Memeroleh data produk dari seluruh seksi (departemen)
Mengelompokkan jenis biaya sesuai SOP perusahaan
C. Sikap Kerja yang dilakukan dalam mengkompilasi biaya produk adalah
sebagai berikut:
Harus bersikap cermat, teliti, akurat dan taat asassaat mengambil data biaya produk dari data base sistem yang ada, mengklasifikasikan data biaya produk secara sistematis dan mencek ketepatan dan reliabilitas sesuai dengan kebjakan dan prosedur perusahaan, memeroleh data produk dari seluruh seksi (departemen), dan mengelompokkan jenis biaya sesuai SOP perusahaan.
MENGHITUNG PEMBEBANAN BIAYA
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam menghitung pembebanan biaya
adalah sebagai berikut:
Kegiatan perusahaan industri manufaktur terdiri dari pembelian bahan baku, proses
produksi, dan penjualan barang jadi. Ada 2 sistem pencatatan akuntansi yang dapat digunakan untuk menghitung biaya produksi yaitu sistem fisik dan sistem terus menerus.
1. Sistem Fisik
Dalam sistem fisik (periodik), penghitungan biaya produksi dilakukan secara periodik dengan melakukan pemeriksaan dan penghitungan persediaan bahan langsung, bahan penolong, barang dalam proses, dan barang jadi pada akhir periode. Sistem ini tidak melakukan pengumpulan biaya produksi secara khusus. Oleh sebab itu, perusahaan manufaktur berdasarkan pesanan yang menggunakan sistem ini tidak menerapkan akuntansi biaya. Untuk memahami penerapan sistem akuntansi fisik pada perusahaan manufaktur, perhatikan contoh berikut.
Contoh
Berikut adalah data persediaan pada PT Gemintang (bukan PKP) bulan Januari 2012, dengan pencatatan menggunakan sistem pencatatan fisik.
1. Data persediaan 1 Januari 2012
Bahan baku Rp. 41.500.000
Barang dalam proses Rp. 33.750.000
Barang jadi Rp. 32.400.000
2. Transaksi yang terjadi selama bulan Januari 2012
Pembelian bahan baku Rp. 124.500.000
Syarat pembayaran 2/10, n/30
3. Pembayaran gaji dan upah langsung Rp. 33.250.000
Pembayaran gaji dan upah tak langsung Rp. 2.400.000
Biaya produksi tak langsung Rp. 39.000.000
4. Data persediaan 31 Januari 2012
Bahan baku Rp. 37.500.000
Barang dalam proses Rp. 30.750.000
Barang jadi Rp. 29.500.000
Diminta:
Buatlah jurnal untuk mencatat data tersebut.
Jawab:
a. Pembelian bahan baku
Pada waktu terjadi pembelian bahan baku, dicatat dengan jurnal:
Pembelian bahan baku Rp. 124.500.000
Kas Rp. 124.500.000
b. Pemakaian bahan baku
Pemakaian bahan baku untuk proses produksi tidak perlu dijurnal, sehingga tidak perlu dicatat dalam akun buku besar. Tetapi untuk mengetahui jumlah pemakaian bahan baku dapat dihitung sebagai berikut:
Persediaan bahan baku awal Rp. 41.500.000
Pembelian bahan baku bersih Rp. 124.500.000
_____________+
Jumlah bahan baku siap diproduksi Rp. 166.000.000
Persediaan bahan baku (akhir) Rp. 37.500.000
_____________ –
Jumlah pemakaian bahan baku Rp. 128.500.000
c. Persediaan bahan baku awal
Bila pada awal periode akuntansi terdapat saldo awal persediaan bahan baku, pada akhir periode saldo tersebut dipindahkan ke akun Ikhtisar Produksi melalui jurnal penyesuaian:
Ikhtisar produksi Rp. 41.500.000
Persediaan bahan baku Rp. 41.500.000
d. Persediaan bahan baku akhir
Bila pada akhir periode akuntansi terdapat persediaan bahan baku yang nilainya bisa diketahui atas dasar inventarisasi stock secara fisik, pada akhir periode akuntansi nilai persediaan tersebut dipindahakan ke akun Ikhtisar Produksi melalui jurnal penyesuaian:
Persediaan bahan baku Rp. 37.500.000
Ikhtisar Produksi Rp. 37.500.000
e. Biaya tenaga kerja langsung
Pembayaran biaya tenaga kerja langsung dicatat pada kolom debet. Pada akhir periode akuntansi, biaya tenaga kerja langsung dipindahkan ke akun Ikhtisar Produksi melalui jurnal penutup:
Ikhtisar Produksi Rp. 33.250.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 33.250.000
f. Biaya produksi tak langsung lainnya
Biaya produksi tak langsung lainnya adalah biaya-biaya yang terjadi di pabrik selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya tersebut antara lain: biaya bahan penolong, biaya listrik, biaya penyusutan mesin, dan biaya asuransi pabrik.
Bila sudah terjadi, biaya-biaya tersebut dikumpulkan dalam akun Biaya Produksi Tak Langsung atau dikumpulkan pada masing-masing jenis biaya produksi tak langsung. Pada akhir periode akuntansi, biaya produksi tak langsung lainnya dipindahkan ke akun ikhtisar produksi melalui jurnal penutup:
Ikhtisar Produksi Rp.xxxxx
Biaya Bahan Penolong Rp.xxxxx
Biaya Penyusutan Mesin Rp.xxxxx
Biaya Asuransi Pabrik Rp.xxxxx
Tetapi, bila biaya produksi tak langsung tersebut (pada waktu terjadi biaya) sudah dicatat dalam akun biaya produksi tak langsung, maka jurnal penutup yang harus dibuat adalah sebagai berikut:
Ikhtisar Produksi Rp. 39.000.000
Biaya produksi tak langsung Rp. 39.000.000
g. Barang dalam proses
Jika pada awal periode akuntansi terdapat saldo awal akun barang dalam proses disebelah debet, pada akhir periode akuntansi saldo tersebut dipindahkan ke akun ikhtisar produksi melalui jurnal penyesuaian sebagai berikut:
Ikhtisar produksi Rp. 33.750.000
Persediaan barang dalam proses Rp. 33.750.000
Bila pada akhir periode akuntansi (setelah diadakan inventarisasi stok secara fisik) ternyata terdapat persediaan barang dalam proses akhir, maka persediaan barang dalam proses akhir tersebut dipindahkan ke akun ikhtisar produksi melalui jurnal penyesuaian sebagai berikut:
Persediaan barang dalam proses Rp. 30.750.000
Ikhtisar Produksi Rp. 30.750.000
h. Produk Jadi
Produk yang telah selesai dikerjakan dan dipindahkan ke gudang, tidak perlu dijurnal. Hal ini disebabkan karena saat terjadi biaya produksi, biaya tersebut sudah dikumpulkan dalam akun Ikhtisar Produksi.
i. Penjualan produk jadi
Produk yang telah siap dijual harus dicatat pada jurnal dengan mendebet akun kas/piutang dagang serta mengkredit akun penjualan dan akun PPN Keluaran melalui jurnal sebagai berikut:
Kas/piutang dagang Rp.xxxxx
Penjualan Rp.xxxxx
PPN Keluaran (10%) Rp.xxxxx
2. Sistem Terus Menerus
Dalam sistem terus menerus (perpetual), perhitungan biaya produksi dilakukan secara terus menerus sehingga biaya produksi yang terjadi dapat diketahui setiap saat. Perubahan atas pembelian maupun pemakaian persediaan bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses, dan barang jadi dicatat terus menerus dan selalu menunjukkan posisi terakhir. Perusahaan yang menggunakan sistem perpetual dapat dikatakan telah menerapkan akuntansi biaya. Sesuai dengan kegiatan perusahaan manufaktur yang telah disebutkan sebelumnya, proses akuntansi biaya pada perusahaan manufaktur adalah sebagai berikut:
a) Akuntansi pembelian bahan baku
Pada saat pembelian bahan baku, dicatat dalam jurnal umum dengan mendebet akun persediaan bahan baku dan mengkredit akun utang dagang (bila pembelian secara kredit) atau kas (bila pembelian secara tunai), dan akun PPN masukan. Bentuk jurnalnya sebagai berikut:
Persediaan bahan baku Rp.xxxxx
Utang dagang/kas Rp.xxxxx
PPN Masukan (10%) Rp.xxxxx
Jika pembelian bahan baku sering dilakukan, transaksi atas pembelian bahan baku sebaiknya dibuatkan jurnal khusus.
Contoh
Berikut adalah data persediaan pada PT. Siomi pada bulan Januari 2012.
a. Data persediaan 1 Januari 2012
Bahan baku Rp. 41.500.000
Barang dalam proses Rp. 33.750.000
Barang jadi Rp. 32.400.000
b. Transaksi yang terjadi selama bulan Januari 2012
Pembelian bahan baku Rp. 124.500.000
Syarat pembayaran 2/10, n/30
c. Pembayaran gaji dan upah langsung Rp. 33.250.000
Pembayaran gaji dan upah tak langsung Rp. 2.400.000
d. Data persediaan 31 Januari 2012
Bahan baku Rp. 37.500.000
Barang dalam proses Rp. 30.750.000
Barang jadi Rp. 29.500.000
Diminta:
Buatlah jurnal atas pembelian bahan baku.
Jawab:
Persediaan bahan baku Rp. 136.950.000
Kas Rp.124.500.000
PPN Masukan (10%) Rp. 12.450.000
b) Retur pembelian bahan baku
Retur pembelian bahan baku dilakukan bila sebagian bahan baku yang sudah dibeli ternyata tidak sesuai dengan pesanan/rusak sehingga harus dikembalikan. Jika terjadi hal yang demikian, dicatat melalui jurnal dengan mendebet akun kas/utang dagang serta mengkredit akun persediaan bahan baku dan PPN masukan sebesar bahan baku yang dikembalikan. Bentuk jurnalnya adalah sebagai berikut:
Kas/utang dagang Rp.xxxxx
Persediaan bahan baku Rp.xxxxx
PPN masukan Rp.xxxxx
c) Akuntansi pemakaian bahan baku
Akuntansi pemakaian bahan baku dipergunakan bila bahan baku yang dibeli akan digunakan dalam pembuatan produk. Hal yang demikian dicatat melalui jurnal dengan mendebet akun biaya dalam proses (BDP) – biaya bahan baku (BBB) dan mengkredit akun persediaan bahan baku sebesar bahan baku yang dicapai.
Berdasarkan data pada PT. Siomi di atas, pencatatan akuntansi pemakaian
bahan baku adalah sebagai berikut:
BDP-BBB Rp. 128.500.000
Persediaan bahan baku Rp. 128.500.000
d) Akuntansi biaya tenaga kerja langsung
Terjadinya pembayaran biaya tenaga kerja langsung selama proses produksi dikumpulkan dalam akun barang dalam proses (BDP) – biaya tenaga kerja langsung (BTKL). Untuk mengetahui besarnya biaya tenaga kerja, bisa dilihat dari catatan daftar upah dan gaji pada periode tertentu (misalnya setiap 1 minggu), kemudian dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Gaji dan upah Rp. xxxxx
Utang gaji dan upah Rp. xxxxx
Gaji dan upah tersebut bila dibayar harus dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Utang gaji dan upah Rp. xxxxx
Kas Rp. xxxxx
Utang PPH Ps. 21 (5%) Rp. xxxxx
Gaji dan upah yang sudah dibayar menjadi beban produksi dicatat dengan mendebet akun barang dalam proses (BDP) – biaya tenaga kerja langsung (BTKL) dan mengkredit akun gaji dan upah.
BDP – BTKL Rp.xxxxx
Gaji dan upah Rp. xxxxx
Contoh
Berikut data biaya produksi PT. Denta tahun 2012
Dibayar biaya produksi:
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 33.250.000
Biaya tenaga kerja tak langsung Rp. 6.500.000
Berbagai macam biaya produksi tak langsung Rp. 32.500.000
Diminta:
Buatlah jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja langsung.
Jawab:
Gaji dan upah Rp.33.250.000
Utang gaji dan upah Rp. 33.250.000
Utang gaji dan upah Rp. 33.250.000
Kas Rp. 31.587.500
Utang PPh pasal 21 (5%) Rp. 1.662.500
Gaji dan upah yang sudah dibayar menjadi beban produksi, dan dicatat dengan jurnal barang dalam proses – biaya tenaga kerja langsung.
BDP – BTKL Rp. 33.250.000
Gaji dan upah Rp. 33.250.000
e) Akuntansi biaya produksi tak langsung/ biaya overhead pabrik (BOP)
Pemakaian biaya produksi tak langsung digunakan pada:
Upah tak langsung
Pemakaian bahan penolong
Biaya penyusutan mesin
Biaya penyusutan gedung pabrik dan lain-lain
Sebelum dibebankan kepada produk, biaya-biaya tersebut dikumpulkan dan dicatat pada akun Biaya Overhead Pabrik (BOP). Dengan demikian, biaya produksi tak langsung yang sesungguhnya terjadi akan merupakan elemen harga pokok produksi.
Biaya produksi tak langsung yang sesungguhnya dicatat dalam jurnal dengan mendebet akun Biaya Overhead Pabrik dan mengkredit akun Berbagai Akun Dikredit (bila unsur biaya produksi tak langsung tidak diketahui jenisnya). Tetapi jika BOP yang sesungguhnya diketahui jenisnya, maka jurnal dibuat dengan mendebet akun BOP dan mengkredit setiap jenis BOP tersebut.
a. Bila jenis BOP tidak diketahui, jurnalnya adalah sebagai berikut:
BOP Rp. xxxxx
Berbagai akun dikredit Rp. xxxxx
b. Bila setiap jenis BOP diketahui dari:
1) Biaya bahan penolong
2) Biaya penyusutan gedung pabrik
3) Biaya penyusutan mesin
4) Biaya asuransi gedung pabrik
Bentuk jurnalnya adalah:
BOP Rp. xxxxx
Biaya bahan penolong Rp. xxxxx
Biaya penyusutan gedung pabrik Rp. xxxxx
Biaya penyusutan mesin Rp. xxxxx
Biaya asuransi gedung pabrik Rp. xxxxx
Contoh
Berdasarkan data biaya produksi PT. Denta, jurnal bila BOP dibebankan kepada produk adalah sebagai berikut:
BDP-BOP Rp. 39.000.000
BOP yang dibebankan Rp. 39.000.000
f) Akuntansi produk jadi
Produk yang sudah selesai diproses dipindahkan ke gudang produk jadi. Pemindahan produk jadi dari bagian produksi ke bagian gudang produk jadi harus dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Persediaan produk jadi Rp. xxxxx
BDP – BBB Rp. xxxxx
BDP – BTK Rp. xxxxx
BDP – BOP Rp. xxxxx
Terkadang pada akhir periode akuntansi terdapat produk yang belum selesai (masih dalam proses). Produk yang masih dalam proses pada akhir periode merupakan persediaan produk dalam proses akhir. Persediaan produk dalam proses akhir harus dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Persediaan barang dalam proses Rp. xxxxx
BDP – BBB Rp. xxxxx
BDP – BTKL Rp. xxxxx
BDP – BOP Rp. xxxxx
g) Akuntansi penjualan produk jadi
Penjualan produk jadi dicatat dengan mendebet akun kas (bila penjualan dilakukan secara tunai) atau piutang dagang (bila penjualan dilakukan secara kredit), dan mengkredit akun penjualan. Dengan dijualnya produk jadi, berarti persediaan produk jadi berkurang. Produk jadi yang dijual harus diketahui berapa harga pokoknya. Untuk mengetahui harga pokok produk jadi yang dijual, dapat diketahui dengan perhitungan sebagai berikut:
Persediaan produk jadi (awal) Rp.xxxxx
Harga pokok produksi Rp.xxxxx
Jumlah produk jadi siap dijual Rp.xxxxx
Persediaan produk jadi (akhir) Rp.xxxxx
________ –
Harga pokok produk jadi Rp.xxxxx
Produk jadi yang sudah laku dijual, dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Kas/piutang dagang Rp.xxxxx
Penjualan Rp.xxxxx
Harga pokok penjualan Rp.xxxxx
Persediaan produk jadi Rp.xxxxx
Contoh
Berikut adalah data PT. Gojigo yang menggunakan sistem perpetual:
a. Data persediaan 1 Januari 2012
Bahan baku Rp. 85.000.000
Barang dalam proses Rp. 57.000.000
Produk jadi Rp. 45.500.000
b. Transaksi yang terjadi selama bulan Januari 2012
Dibeli bahan seharga Rp. 250.000.000 ditambah PPN 10% dengan syarat pembayaran 3/10, n/60.
Dikembalikan bahan yang dibeli seharga Rp. 5.000.000 (belum ditambah PPN 10%) karena tidak sesuai pesanan.
Dibayar biaya angkut pembelian sebesar Rp. 1.000.000
Dibayar sebagaian utang atas pembelian bahan sebesar Rp.75.000.000 dengan mendapat potongan 3%.
Dibayar biaya produksi selama bulan Januari 2011:
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 45.000.000
Biaya tenaga kerja tak langsung Rp. 2.500.000
Dibayar biaya produksi tak langsung bulan Januari 2011:
Biaya listrik Rp. 1.500.000
Biaya reparasi mesin Rp. 1.250.000
Biaya asuransi pabrik yang menjadi beban bulan Januari 2011 sebesar Rp. 2.000.000. pada saat membayar dicatat sebagai asuransi dibayar dimuka.
Penyusutan gedung pabrik Rp. 3.000.000
Penyusutan mesin Rp. 4.000.000
c. Pada tanggal 31 Januari 2012 terdapat persediaan:
Bahan baku Rp. 70.000.000
Barang dalam proses Rp. 50.000.000
Produk jadi Rp. 55.000.000
Diminta:
a. Buatlah jurnal atas transaksi selama bulan Januari 2012
b. Buatlah jurnal pembebanan biaya produksi, jika BOP yang dibebankan sebesar 25% dari BTKL
Jawab:
a. Jurnal untuk bulan Januari 2012

b. Jurnal pembebanan biaya produksi
1) BDP-Biaya Bahan Baku Rp. 139.700.000
Persediaan bahan baku Rp. 139.700.000
Catatan: asumsi pemakaian bahan baku sebesar Rp. 139.700.000
2) BDP-Biaya tenaga kerja Rp. 45.000.000
Gaji dan upah Rp. 45.000.000
3) Biaya overhead pabrik Rp. 14.250.000
Gaji dan upah tak langsung Rp. 2.500.000
Biaya asuransi pabrik Rp. 2.000.000
Penyusutan gedung pabrik Rp. 3.000.000
Penyusutan mesin Rp. 4.000.000
Biaya listrik Rp. 1.500.000
Biaya reparasi mesin Rp. 1.250.000
BDP-BOP Rp. 14.250.000
BOP dibebankan Rp. 14.250.000
BOP dibebankan Rp. 14.250.000
BOP sesungguhnya Rp. 14.250.000
4) Persediaan produk jadi Rp. 198.950.000
BDP-BBB Rp. 139.700.000
BDP-BTKL Rp. 45.000.000
BDP-BOP Rp. 14.250.000
B. Keterampilan yang dilakukan dalam menghitung pembebanan biaya adalah sebagai berikut:
Menghitung pembebanan biaya produksi kepada produk
Menyiapkan jurnal pembebanan biaya
C. Sikap yang harus dilakukan waktu menghitung pembebanan biaya yaitu:
Harus bersikap cermat, teliti dan taat asas waktu menghitung pembebanan biaya produksi kepada produk dan menyiapkan jurnal pembebanan biaya.
MENYAJIKAN LAPORAN HARGA POKOK PRODUK
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam menyajikan laporan harga pokok produk adalah sebagai berikut:
Berikut adalah format yang dapat digunakan dalam menyajikan laporan harga pokok produk:
(Nama Perusahaan)
Harga Pokok Produk Jadi
Untuk Periode yang Berakhir…

Jumlah barang dalam proses Rp.xxxxx
(Dikurangi)
Persediaan barang dalam proses (akhir) Rp.xxxxx
_______ –
Harga pokok produk jadi Rp.xxxxx
B. Keterampilan yang dilakukan dalam menyajikan laporan harga pokok produk adalah sebagai berikut:
Menyesuaikan format dan struktur laporan harga pokok produk sesuai dengan kebutuhan manajemen
Menyajikan laporan harga pokok produk sesuai standar operasional perusahaan
C. Sikap kerja yang harus dilakukan waktu menyajikan laporan harga pokok produk yaitu:
Harus bersikap cermat, teliti, akurat, dan taat asas waktumenyesuaikan format dan struktur laporan harga pokok produk sesuai dengan kebutuhan manajemen dan menyajikan laporan harga pokok produk sesuai standar operasional perusahaan.

Baca Juga :
Category Bisnis & Manajemen